Kuala lumpur –  Setiap tanggal 8 mac, dunia merayakan hari perempuan internasional, tentunya peringatan ini tak hanya terhad  kepada glorifikasi ,yang kemudian  menghadkan publik hanya pada pengetahuan di atas kertas tentang bagaimana perempuan pernah berkontribusi terhadap perubahan dunia Apatahlagi hanya sebagai formalitas  yang kemudian menempatkan hari  yang seharusnya menjadi titik tolak perjuangan perempuan  menjadi cakap kosong di tengah realiti objektif  peningkatan kes-kes penindasan terhadap perempuan semasa pandemi covid-19.

Tentu sahaja untuk menghindari keterjebakan pada glorifikasi dan formalitas tersebut, gerakan intelektual perlu memainkan perannya. Perhimpunan pelajar Indonesia di Malaysia (PPIM ) Periode 2020/2021  sebagai bahagian dari Intelectual forces  melalui divisi penelitian dan pengkajian strategisnya , tepat pada hari perempuan sedunia (8/21) telahpun berjaya mengadakan webinar bertajuk “Peran  perempuan dalam dunia politik dan kerja“,yang menerusi semangat dari tagline IWD2021 #CHOOSTOCHALLENGE.

Dengan menghadirkan 6 pembentang di antaranya Akita Arum Verselita (Mantan ketua PPI Malaysia 2015/2016), Rizki Amalia Fatikhah & Didit soleh (pengerusi data Trade Union Right Center),Ana Yunita pratiwi (Direktur eksektif lembaga advokasi perempuan damar lampungn ),Inna Junaenah,S.H.M.H (Ketua umum PPI cawangan UITM 2020/2021),dan Sarah Ulfa Anwar (PPI bangladesh 2020/2021) dan diskusi ini  dipandu oleh Mansurni abadi (Ahli pengerusi Divisi penelitian dan kajian strategis PPI Malaysia 2020/2021).

Diskusi yang mengambil masa 2 jam ini, bertujuan untuk membentuk penelitian yang dipadu tentang perempuan didunia kerja dan politik untuk kemudian disebarluaskan oleh jaringan PPI Malaysia 2020/2021 dan diskusi ini berlangsung dalam 2 pusingan yang berlangsung sangat bernas sekali.

Dunia kerja dan perempuan

Pusingan pertama, diawali dari isu dunia kerja yang mana masing-masing pembicara telahpun mengenalpasti masih adanya ketimpangan terhadap perempuan di dunia kerja baik dari segi upah, jaminan kesehatan,kejahatan seksual, dan lain sebagainya.

Secara Am-nya, Keenam pembicara sepakat jika kondisi perempuan didunia kerja selalunya diperas  keringatnya guna menghasilkan  nilai lebih tanpa adanya jaminan yang hebat ,apatalagi di alam berlogika kapitalisme yang selalunya menghendaki kaum perempuan diletakkan secara sub-ordinat di dalam masyarakat kelas, yakni mengembalikannya ke dalam proses produksi dan sumber bagi tenaga kerja yang bisa diupah murah dan digunakan kapan sahaja.Di sisi lain, perempuan juga dilihat sebagai pembekal cadangan tenaga kerja baharu bagi generasi buruh berikutnya, yang siap menggantikan bapak dan ibunya.

Dari pusingan pertama, ada 5 cadangan yang dikongsikan oleh masing-masing pembicara, yaitu 1.Dari Ana yunita pratiwi, menekankan harus adanya penciptaan lingkungan kerja yang ramah perempuan dan mendukung kondisi biologisnya,baginya semua harus bermula dari upaya untuk meratifikasi konvensi ILO 183, 2. Anna Junaenah,mendorong adanya proses yang partisipatif dalam pembentukan polisi yang menyangkut dunia kerja perempuan, 3.Didit dan Rizki mendorong polisi perlindungan tenaga kerja untuk lebih inklusif terhadap pekerja informal , 4. Akita Arum verselita, menenkankan peran-peran domestik perempuan yang harusnya bisa dikerjakan bersama kerana itu genderless dan mengajak agar perempuan berani menyuarakan setiap penindasan yang dia alami, 5. Sarah ulfa anwar, menghimbau agar industri dapat lebih cakna terhadap perlindungan kesehatan bagi perempuan dan negara tegas terhadap perusahaan-perusahaan itu jika masih tak cakna.

Dunia politik dan perempuan

Sementara pusingan ke2, adalah ehwal perempuan dalam politik, bidang yang sebenarnya Indonesia sendiri telahpun memberikan kuota 30 % sebagai langkah affirmative action tetapi banyak pihak yang menandang keterwakilan perempuan di politik tidak mengutamakan kualiti, oleh Didit dan rizki dari Trade union right center (TURC) masih terjebak pada simbolisme dan menjadi boneka dari  mereka yang lebih berkuasa  sahaja, belum ada kekuatan politik yang padu kerana kesadaran terhadapnya sangat kecil di kalangan perempuan akibatnya suara-suara perempuan tidak selalu menang

Khas,terhadap seksisme yang seringkali menjadi punca penolakan perempuan menjadi pemimpin, Akita arum verselita menegaskan peningkatan kesadaran melalui literasi dan keterbukaan untuk memahami secara benar, menjadi kunci seksime bisa di hilangkan. apatahlagi dia merefleksikan dari kesnya, ketika dia menjabat  sempat mengalami hal yang sama, namun tidak  sampai harus meletak jawatan, tapi tetap sahaja ia menyayangkan jika di gerakan intelektual justru masih terjebak pada budaya seksisme, “saya amat menyayangkan kalau yang mendapatkan exposure lingkungan inklusif bertindak seksis”,tegasnya.

Ehwal menarik di syorkan oleh puan  Sarah ulfa anwar, dari PPI Bangladesh yang sebahagian besar jawatannya diisi oleh perempuan mengungkapkan jika , Rakan-rakannya yang ada di sana memang berasal dari sebuah universiti bernama University asia women yang khas untuk membina kemimpinan perempuan tapi ia pun berkisah, ada juga banyak cabaran yang dialami oleh rakan-rakannya mahupun pensyarahnya yang perempuan yang selalu di pandang sebelah mata namun baginya “harus ada langkah-langkah yang produktif dan inovatif jika kitapun ( sebagai perempuan ) sama potensinya”, katanya.

Sementara dari puan Inna junaena sebagai pimpinan ppi cawananga uitm , mengungkapkan jika keterwakilan perempuan memang sudah sangat bagus namun perlu pendidikan politik dan dia pun sedikit berkisah tentang PPI cawangan UITM yang beberapa kali di pimpin oleh perempuan dan tetap bisa menjadi salah satu cawanngan yang hebat, jadi baginya perempuan perlu pendidikan politik dan dukungan dari negara .Terakhir, daripada Puan ana yang mengungkapkan jika perempuan akan terjun ke politik secara lebih selesa jikalau ruang aman baginya di pertingkatkan.

Adapun  dari kedua pusingan itu sempat pula beberapa kali di mention ehwal patriarki ,sebagai permasalahan dasar yang telahpun membentuk dirinya sebagai sistem, dimana dominasi laki-laki terhadap perempuan terbangun dalam sosialisasi yang telah lama diabadikan melalui ideologi, dan dipelihara oleh institusi-institusi harus diselesaikan dengan cara-cara yang sistematis, intelektual, dan mengajak  semua pihak terlibat didalamya dari mulai level mikro,mezzo, dan makro.

 

 

 

 

 

By Mansurni Abadi

Knowledge seeker and activist that help Indonesia moving library network in Sumatra island, graduate from American English Skills Development Center Manila, Philippines ( Diploma in English), IIB dharmakaya Lampung ( BA in Hr management ), and Muhammadiyah Lampung univ ( BA in psychology ) than ever work and study English and NLP in Australia ( Perth and Sydney ) and exchange to Laos, Cambodia, Myanmar, and Thailand. Currently, doing master degree research program in ethnic studies, National University of Malaysia, and active in a few local and international youth organization. I define my self as an activist who likes it with travel because when we explore the depth of our curiosity about the world, we are often called to challenge and question the way things are and why

Leave a Reply